Membaca Gending Sriwijaya dalam Lintasan Budaya dan Teknologi Panggung: Kajian Peneliti S3 Pendidikan Seni atas Pertunjukan Mahasiswa UNESA
Surabaya, 2025 .Karya seni pertunjukan Gending
Sriwijaya: The Rise of A Timeless Kingdom yang dipentaskan oleh mahasiswa
angkatan 2022 Program Studi S-1 Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik
(Sendratasik), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menjadi ruang
refleksi yang kaya makna di Gedung Pertunjukan Graha Sawunggaling UNESA,
Surabaya. Pertunjukan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Teater
Digital dan Tata Artistik dan telah menghasilkan dialog baru antara warisan
budaya tradisional dan praktik artistik kontemporer yang dipacu oleh teknologi.
Tradisi Budaya dalam Bingkai Pertunjukan Kontemporer
Gending Sriwijaya secara historis merupakan
manifestasi seni karawitan dan tari tradisional yang lahir dari kultur
Kesultanan Palembang sebagai representasi identitas budaya Melayu Nusantara.
Gending tidak hanya berfungsi sebagai komposisi musik, tetapi juga sebagai ekspresi
sosial–kultural yang mengandung simbolisme filosofis, ritual, dan estetika
masyarakat tradisional. Dalam pentas mahasiswa Sendratasik, unsur-unsur ini
hadir kembali melalui struktur naratif yang memadukan elemen tradisi dan
inovasi artistik.
Para peneliti Pendidikan Seni tingkat doktor (S3) melihat bahwa pertunjukan ini berperan sebagai medium aktualisasi budaya tradisional yang ditransformasikan secara dialogis dengan teater digital dan tata artistik panggung modern. Dengan demikian, Gending Sriwijaya bukan sekadar artefak budaya yang direkonstruksi, tetapi dinamis dan hidup dalam pengalaman estetis penonton masa kini.

Teater Digital: Medium Baru dalam Konservasi Budaya
Salah satu pemikiran peneliti S3 menunjukkan bahwa teater
digital telah membuka peluang baru dalam pelestarian budaya tradisional.
Teknologi digital — termasuk proyeksi multimedia, desain suara digital, dan
pencahayaan interaktif — memperluas bahasa pertunjukan tanpa merusak akar
tradisi gending. Pendekatan ini mengubah karya tradisional menjadi
pengalaman yang lebih imersif, sehingga masyarakat luas, termasuk generasi
muda, dapat mengapresiasi makna budaya dengan cara yang relevan dengan era
digital.
Dalam konteks Teater Digital dan Tata Artistik,
mahasiswa dilatih untuk memahami bagaimana medium digital dapat memengaruhi
narasi dan estetika pertunjukan tradisional. Misalnya, integrasi grafik digital
dalam latar visual pementasan memperkuat latar sejarah Kerajaan Sriwijaya
sekaligus menciptakan ruang imajinatif baru bagi penonton.
Tata Artistik sebagai Jembatan Interpretasi Budaya
Dari sudut pandang tata artistik, pertunjukan ini menjadi
studi kasus penting dalam pemahaman cultural staging — proses mengatur
unsur visual, ruang, dan simbol budaya dalam konteks panggung. Peneliti S3
Pendidikan Seni menekankan bahwa tata artistik yang efektif bukan hanya
memperindah pertunjukan tetapi menjadi medium interpretatif yang menerjemahkan
konsep budaya kepada audiens yang beragam.
Kostum, properti, blocking (pengaturan gerak), hingga ritme visual keseluruhan dipadu sedemikian rupa dengan elemen digital sehingga menciptakan paduan antara tradisi dan inovasi. Dalam kajian budaya, ini dianggap sebagai bentuk rekontekstualisasi budaya: suatu cara menyampaikan warisan budaya lewat estetika kontemporer tanpa mengabaikan signifikansi asalnya.

Pembelajaran Seni yang Menguatkan Identitas Budaya
Pembelajaran yang ditawarkan dalam mata kuliah Teater
Digital dan Tata Artistik — seperti yang dipraktikkan dalam pementasan ini
— memungkinkan mahasiswa tidak hanya menginternalisasi teknik artistik, tetapi
juga menumbuhkan kesadaran budaya kritis. Peneliti S3 melihat bahwa
pengalaman performatif ini melahirkan pemahaman mendalam atas hubungan antara
seni, teknologi, dan nilai budaya.
Mahasiswa dilatih untuk mengevaluasi bagaimana nilai-nilai
historis dan estetika tradisional dapat dikomunikasikan melalui struktur
pertunjukan modern dan bagaimana teknologi dapat memperkaya, bukan
menggantikan, esensi budaya.
Menyatukan Akar Tradisi dan Semangat Inovasi
Pementasan Gending Sriwijaya oleh mahasiswa
Sendratasik UNESA bukan sekadar tugas akhir mata kuliah; ia adalah manifestasi
nyata dari pembelajaran seni kontemporer yang menghormati asal-usul budaya.
Para peneliti S3 Pendidikan Seni melihat karya ini sebagai langkah progresif
dalam pelestarian budaya melalui medium seni pertunjukan yang melibatkan
inovasi digital.
Dengan memadukan tradisi dan teknologi secara reflektif, Gending Sriwijaya hadir sebagai dialog lintas waktu: antara masa lalu yang kaya nilai budaya dan masa kini yang dibentuk oleh kreativitas digital. Pementasan ini sekaligus menjadi model pembelajaran bagi institusi pendidikan tinggi lain dalam memadukan konservasi budaya dan keterampilan artistik modern.
Editor: Syaiful Qadar Basri
News Writer: @ipoenkbadhoet
More info:
🔗 https://s1psendratasik.fbs.unesa.ac.id/
🔗 https://s2pendsenibudaya.pasca.unesa.id/
🔗 https://s3pendidikanseni.fbs.unesa.ac.id/
🔗 https://fbs.unesa.ac.id/