Mahasiswa S3 Pendidikan Seni UNESA Telusuri Jejak Majapahit hingga Tradisi Jawa dalam Ekspedisi Kulturaya 2025
Trowulan
– Malang, Jawa Timur
Sebanyak
puluhan mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Seni, Fakultas Bahasa dan
Seni, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengikuti kegiatan Ekspedisi
Kulturaya: Kuliah dan Tur Jejak Kehidupan Lampau Alam Raya selama dua hari,
11–12 November 2025. Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi riset
mahasiswa melalui penelusuran langsung terhadap situs-situs sejarah dan lembaga
budaya di Jawa Timur.
Pada
hari pertama, rombongan melakukan kunjungan ke sejumlah situs bersejarah di
kawasan Trowulan, Mojokerto, yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Majapahit.
Lokasi pertama adalah Museum Majapahit. Para mahasiswa mengamati koleksi arca
Hindu–Buddha, keramik asing abad ke-13 hingga ke-15, serta struktur arsitektur
bata merah yang menggambarkan kemajuan peradaban Majapahit.
“Museum
Majapahit memberikan gambaran konkret tentang perkembangan estetika dan
teknologi budaya Nusantara. Bagi mahasiswa S3, pengalaman seperti ini membuka
ruang analisis yang lebih mendalam untuk riset seni berbasis data arkeologis,”
ujar salah satu dosen pendamping, Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si saat
ditemui di lokasi.
Kunjungan
dilanjutkan ke Candi Bajang Ratu, gapura paduraksa dari abad ke-14 yang
menonjolkan ornamen kala-makara dan motif flora. Para mahasiswa mempelajari
bentuk, proporsi, serta teknik susunan bata merah khas Majapahit. Setelah itu,
rombongan menuju Candi Tikus, situs petirtaan dengan struktur kolam bertingkat
dan miniatur candi di bagian tengah yang memperlihatkan hubungan antara seni,
ritual air, dan teknologi pengairan masa kuno.
Memasuki
siang hari, peserta bergerak ke wilayah Singosari, Malang. Di Candi Singosari,
mahasiswa menelaah ikonografi, seni pahatan batu andesit, serta peran situs
tersebut dalam dinamika kekuasaan Kerajaan Singhasari. Studi berlanjut ke Situs
Dwarapala, yang menampilkan arca penjaga berukuran raksasa, serta Candi
Sumberawan, satu-satunya candi berbentuk stupa di Jawa Timur.
Menurut
arkeolog Dwi Handoyo, salah satu Narasumber kegiatan, objek-objek kuno
tersebut menjadi sumber belajar yang penting untuk memahami kesinambungan
budaya. “Dari Majapahit hingga Singhasari, kita melihat bagaimana identitas
visual dan spiritual masyarakat Jawa tumbuh. Mahasiswa dapat membaca konteks
dan perubahan budaya melalui benda-benda ini,” tuturnya.
Pada
hari kedua, rombongan menuju Yayasan Omah Mikir Prambudi di batu Malang. Di tempat ini, mahasiswa berdiskusi
dengan penggiat budaya mengenai pengembangan seni tradisi, model pendidikan
kreatif berbasis kearifan lokal, serta peran komunitas dalam pelestarian
budaya.
Diskusi
tersebut memperkaya pemahaman peserta tentang dinamika lembaga budaya
masyarakat. “Pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi, tetapi
harus hidup dalam aktivitas warga. Ini yang kami pelajari di sini,” ujar Prof.
Dr. Djuli Djati Prambudi, M.Sn (Owner Yayasan Omah Mikir Prambudi)
Sebagai
penutup, mahasiswa mengunjungi Rumah Budaya Selamet di Kota Batu. Mereka
mempelajari makna legenda sebagai ritual sosial dan ruang ekspresi seni
masyarakat Jawa. Tradisi ini dipandang memiliki nilai estetika dan
spiritualitas yang penting untuk dikaji dalam pendidikan seni modern.
Kegiatan
Ekspedisi Kulturaya 2025 diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa
doktoral mengenai keterhubungan sejarah, seni, lingkungan, dan masyarakat.
Pengalaman lapangan ini juga dianggap memperkuat landasan metodologis mahasiswa
dalam melakukan penelitian berbasis budaya.
“Kami
ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori dari buku, tetapi menyentuh realitas
budaya secara langsung. Saat melihat situs, berbicara dengan pelaku budaya, dan
merasakan ruangnya, mereka memaknai seni secara lebih utuh,” pungkas Handoyo
pewaris dari sanggar topeng malang (mbah Karimun).